Si Fulan berdiri sambil menatap sungai yg sudah tak berair lagi. Sungai indah berubah jadi aliran lava, panas tak terkira. Fulan tertegun melihat bebatuan yang luruh dari puncak gunung bergulung, terbentur dan berubah jadi serpihan bak kristal. Begitu cepat hanya sekejap bongkahan batu terpecah tak tersisa.
Fulan tertawa, karena untuk menangis sudah biasa
Fulan tersenyum, tapi matanya berduka
jika saja Fulan menangis mungkin air matanya bak butiran tasbih kristal yg selalu digenggamnya.
Namun Fulan tersenyum berharap akan ada cahaya meski sekecil untain tasbih kristal, walo kecil tapi berharga.
Tasbih kristal begitu kuat mengikat jiwanya hingga tak pernah lepas dari dekapan lembut tangannya.
*semoga bencana dan duka segera sirna
[Continue reading...]
Fulan tertawa, karena untuk menangis sudah biasa
Fulan tersenyum, tapi matanya berduka
jika saja Fulan menangis mungkin air matanya bak butiran tasbih kristal yg selalu digenggamnya.
Namun Fulan tersenyum berharap akan ada cahaya meski sekecil untain tasbih kristal, walo kecil tapi berharga.
Tasbih kristal begitu kuat mengikat jiwanya hingga tak pernah lepas dari dekapan lembut tangannya.
*semoga bencana dan duka segera sirna