Halaman

Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Oktober 2010

Ilmu Santet dan Ilmu Pelet

Ilmu Santet dan Ilmu Pelet kerap identik dengan ilmu hitam layaknya perdukunan. Namun sebenarnya ilmu ini umum baik jalur putih maupun hitam. Putih yang dimaksud adalah lewat media do'a atau ayat ayat suci sedangkan yang hitam lewat jampi jampi. Tapi menurutku baik lewat media hitam maupun putih sama sama tidak baik karena yang namanya santet pastilah bersifat melukai seseorang, demikian pula dengan pelet. Karena pelet tidak hanya digunakan dalam hubungan asmara tetapi lebih luas lagi semacam gendam atau hipnotis yang lebih populer. Keduanya sama sama bertujuan mengendalikan alam pikir seseorang entah untuk kepentingan seseorang bahkan untuk kejahatan.

Konon katanya orang orang yang tidak meyakini dengan santet dan pelet justru aman alias sulit ditembus karena alam bawah sadar mereka tak terkungkung rasa takut dan gamang. Tapi entahlah, tentang analisa yang terakhir ini saya belum pernah melakukan riset dan mencermati. Yang saya tahu justru rata rata pikiran kita pada umumnya sudah terkontaminasi dengan suguhan televisi tentang kisah yang penuh misteri dan hal hal yang berbau mistik.

Karena baik santet maupun pelet ibarat melempar batu sembunyi tangan, maka sangat sulit dibuktikan pelakunya karena perantaranya pastilah jin yang tak kasat mata. Hanya satu cara untuk membentengi itu semua yakni mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa, karena kita begitu lemah tak ada daya dan upaya sedangkan Tuhan pemilik kekuatan untuk menepis apa saja yang hendak mencelakakan kita.

Yach begitulah, ilmu itu ibarat mata pisau, bisa untuk memotong bisa juga untuk membunuh. Semoga kita tak menjadi congkak, sombong dan takabur dengan ilmu yang kita miliki. Dan semoga ilmu kita bermanfaat dan bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam.

#INTERMEZO:
Oh ya, saya jadi ingat seorang teman yang kebetulan naik bis bersama dari Surabaya. Beliau kakak kelasku saat SMA dan kebetulan lama tak bersua. Beliau sempat cerita bahwa saat ini lagi melanjutkan program magister di Malang. Nyeletuk saja aku bilang 'hebat dunk sudah jadi dosen bentar lagi mau jadi Paranormal pula'. Beliau kaget dan bertanya. Lo kok paranormal? Apa hubungannya dengan jurusanku? Aku jawab 'ya ada lah..., kan jurusannya FISIP alias Fakultas Ilmu Santet dan Ilmu Pelet. Iya to? Hehehe....kena dech....!!!!
[Continue reading...]

Sabtu, 09 Oktober 2010

KAYU dan HATI

Menjelang weekend, hari Sabtu kemarin saya mendapati kabar yang sangat mengejutkan. Kabar itu adalah robohnya rumah persinggahan milik sahabatku di daerah Surabaya utara. Maklum rumah sudah berumur lebih dari 100 tahun dan sama sekali belum pernah direnovasi, bentuk dibiarkan seperti jaman dahulu kala karena hanya dipakai tempat singgah saja. Dari luar bangunan itu tampak kokoh meski bersahaja namun siapa sangka di pagi buta rumah terbelah jadi dua. Dan setelah dilakukan bedah rumah ternyata banyak rayap di dalam kayu penyanggah.

Bersyukur musibah datang kala pagi buta, andai malam di saat para penghuni terlelap melepas penat entah kami juga tidak bisa membayangkan. Alhamdulillah, Maha suci Allah yang masih memberi kasih kepada hambaNYA, mungkin itu ungkapan atas semua peristiwa.

Ternyata apa yang terlihat tak sama dengan nyatanya. Kayu yang kokohpun bisa patah oleh makhluk kecil bernama rayap yang sangat pandai bersembunyi dan tak terdeteksi. Mungkin begitu pula dengan hati kita, jika dibiarkan tak dirawat, tak diisi dengan hal-hal yang bermakna pastikan akan diisi rayap-rayap yang siap menggerogoti hati dan menggoyahkan keimanan kita.

Rayap hati juga sulit dideteksi, pandai bersembunyi karena itu adalah sifat negatif kita sendiri. Sifat iri, dengki, hasud, ujub dan tinggi hati. Untuk itulah mari kita selalu waspada jangan sampai rayap di hati kita akan menumbangkan jati diri dan keimanan kita.

*Buat Mbak Rifa; Semoga tabah dan dimudahkan segala urusan sesudahnya. AMIN...

[Continue reading...]

Jumat, 06 Agustus 2010

Aku ingin Pulang......

Meski saat ini aku sedang sedih karena seseorang yang sangat berarti sedang sakit, tapi aku ingin menulis sekedar permintaan maaf menjelang Ramadhan.

Beberapa waktu silam aku silaturrahim ke rumah seorang sahabat di luar kota.Dalam perjalanan aku bertemu dengan seseorang yang aku panggil Akhi (begitu aku panggil laki-laki itu) yang bercerita banyak tentang dirinya. Usia beliau sekitar 50 tahun, sudah banyak sekali pengabdian yang dilakukan untuk sebuah pesantren. Meski berilmu tinggi, akhi sangat baik dan ramah. Sama sekali tak terlihat kesombongan dalam dirinya. Banyak sekali nasehat-nasehat yang diberikan kepadaku, tentang hidup, agama dengan bahasa filsafat layaknya orang-orang Tasawuf kebanyakan. Ternyata akhi juga punya banyak nama selain nama aslinya yang diperoleh dari pesantren katanya. Oh Ya..??pikirku.
Disela-sela kiprahnya di dunia pesantren ternyata beliau punya hobi balap motor dan sempat menjadi Ketua Tim dari sebuah club motor. Dari kecil Beliau tinggal di Pesantren dan sudah menjelajah/silaturrahim hampir seluruh pesantren di pulau Jawa. Pernah menetap di Jakarta dan berbisnis juga namun ditinggalkan karena harus pergi ada “misi khusus” dari pesantren ke beberapa pulau mulai Aceh, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali sampai Irian Jaya bahkan pernah tinggal di beberapa Negara yakni, Malaysia (sekaligus menimba ilmu kedokteran, kini beliau seorang dokter), Philipina, Singapore dan juga Afganistan.
Untuk negara yang terakhir, Afganistan. entah kenapa tiba-tiba aku jadi merinding. Mungkin terlalu sering jadi tujuan para militant dan para Teroris (seperti berita di Televisi).

Disela-sela percakapan, akhi terdiam,,,menghela nafas panjang dan seperti melepas beban berat. Tiba-tiba akhi berkata “Aku ingin jadi orang biasa, bukan orang pilihan”.
Aku bingung, aku bertanya. “Maksudnya apa to? Bukannya menjadi orang pilihan itu suatu kehormatan dari Tuhan apalagi yang dipilih itu jalan Tuhan?”.

Akhi menggeleng. Jalan Tuhan itu memang kehormatan, itu yang aku impikan. Tapi aku sudah salah jalan. Akhi berkata bahwa selama ini hidupnya berpindah-pindah sesuai pesan dan keinginan juga perintah yang lebih disebut wasiat dari pesantren. Dan daerah yang dipilihpun kebanyakan daerah konflik dengan alasan jihad. Beliau tinggal di hutan, gunung juga tempat-tempat yang jauh dari perkotaan. Beliau tidak punya daya upaya untuk membantah, meski dengan alasan keluarga. Beliau tidak menyesal berbuat kebaikan, tapi…. Aku ingin di jalan lain bukan disini (yang diikuti selama ini) katanya. Sebenarnya cita-cita utamanya adalah mendirikan pesantren di daerahnya, dekat rumah yang kebetulan sudah dipersiapkan lahan seluas 2 Hektar dimana akan diperuntukkan spesial untuk anak-anak yatim dan kurang mampu..
Hatiku merasa iba tapi ada juga semacam curiga, jangan-jangan ini seorang......, ah masa iya???

Sambil berkaca-kaca akhi berkata bahwa beliau hari ini masih bisa singgah ke saudara-saudara, tapi entah besok atau lusa. Akhi sudah lelah. Aku ingin pulang... Andaikan Tuhan mengambil nyawa, beliau ingin setelah bertemu, mohon ma’af dan mencium kaki ibunya. Beliau juga rindu menggendong dan menyuapi ibunya yang kini sudah renta.

Tak terasa aku ikut berkaca-kaca mendengar penuturannya. Aku tak tega mau bertanya lagi. Sepertinya pernyataan itu adalah sebuah jawaban dari pertanyaan yang bergemuruh di hati dari tadi (ah, semoga saja aku salah…), kata-kata Akhi memang penuh filosofi. Meski ada jawaban dalam keragu-raguan namun aku tidak mau su’uzdon, aku tetap berdo’a semoga Allah memberi jalan yang terbaik buat akhi yang baik hati. Amin…

30 menit TA’ARUF lewat perbincangan itu cukup menyentuh hati. Ya Allah.., kadangkala aku merasa malu sendiri, bagaimana tidak la seseorang yang kita anggap “negatif” ternyata berhati mulia dan sangat hormat pada ibunya. Bagaimana dengan kita?Menjelang Ramadhan ini sudahkan kita meminta maaf pada orang tua kita sebelum meminta maaf pada sahabat-sahabat kita???

Aku sendiri juga tidak tahu sampai dimana nanti umurku.

Taqobalallohu Minna Waminkum, Taqobbal Ya Karim.
Marhaban Ramadhan ya Ummi… Ya Abi…Ya Akhi…ya Ukhti sobat Blogger..


Note: Spesial buat someone I Miss U
[Continue reading...]

Sabtu, 17 Juli 2010

Slilit Sang Bu Nyai (2)

Mukadimah:

Ini postingan saya yang ke 2. Jauh sekali intervalnya dengan postingan pertama dikarenakan ada tugas (pekerjaan off line yang sangat menyita waktu dan pikiran) sehingga tidak bisa menulis dan hanya sesekali jalan-jalan cuci mata ke blog para sahabat. Saya mohon maaf pada para sahabat yang sudah lama menunggu kelanjutan dari cerita di episode 1. Okelah kalo begitu langsung dilanjut saja ya...



Episode:2

Pada episode 1 diceritakan anak gadis kecil yang rela berjalan kaki seorang diri demi mencari ilmu di sekolah madrasah ibtidaiyah ke kampung lain.



Antara cita-cita dan ambisi anak seusia itu sudah jelas kelihatan. Dia tidak hanya rajin belajar ilmu agama tapi juga seni sampai ilmu bela diri semua diikuti. Sepertinya dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menyerap segala ilmu dari sekolah madrasah ibtidaiyah yang memang paling bagus se kecamatan.Spirit yang kuat untuk belajar dan pantang menyerah juga keberaniannya untuk selalu tampil di depan umum, membuat dia gampang terkenal di lingkungan sekolah dan kerap mewakili lomba-lomba antar sekolah.



Sampai pada akhirnya tamat dan melanjutkan sekolah di bidang ilmu agama sampai perguruan tinggi. Kiprahnya di organisasi sosial keagamaanpun patut diperhitungkan. Kini dia sudah menjadi perempuan dewasa yang matang dan sarat pengalaman bahkan salah satu organisasi kemasyarakatan di tingkat kabupaten telah mempercayakan amanah sebagai salah satu ketua bidang tertentu.



Pada satu malam dia merenung dan merasa 60 prosen cita-citanya telah tercapai. Namun dia belum puas, dia ingin membangun sebuah sekolah setingkat Taman Kanak-Kanak dan Madrasah Ibtidaiyah sekaligus Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) dalam satu lokasi. Mungkin karena track recordnya bagus, proposal pembuatan sekolah tersebut disetujui oleh sebuah yayasan sosial dan alhamdulillah terwujudlah sekolah impian itu.



Pada malam yang lain dia mengurai lagi mimpinya, rasanya semua sudah hampir terpenuhi. Jerih payahnya berjalan kaki beberapa tahun yang lalu tidaklah sia-sia. Tak disangka secepat itu dirinya sudah menjadi Bu Nyai termuda. Ladang da’wahnya tidak hanya seputar kampung kecil namun sudah tingkat kabupaten. Dia tidak hanya berda’wah di mimbar tapi juga di dalam kehidupan sehari-hari.



Dan kiprah Bu Nyai inipun menarik perhatian seorang pejabat tinggi di kota itu. Seorang ajudan diutus ke rumah Bu Nyai untuk menyampaikan undangan pertemuan "silaturrahim" dari sang pejabat. Kebanyakan orang pastilah merasa tersanjung bila diundang oleh seorang pejabat, tapi tidak bagi dia. Baginya ini adalah sebuah dilema seperti "slilit" di gigi. Enak saat di LIDAH tapi meninggalkan sisa sakit di GIGI kita dan tidak nyaman bila tidak dilepaskan.



Tetapi karena menghormati undangan itu akhirnya dengan ucapan basmalah diputuskannya berangkat juga. Di rumah megah sang pejabat sudah berkumpul para ajudan dan para petinggi kota. Ada apa gerangan?????? ternyata hari itu hari ulang tahun pernikahan perak sang pejabat dan beliau ingin Bu Nyai yang memberi do'a. Alhamdulillah... dalam hatinya. Acara demi acara telah dilewati, menu makanan sudah dinikmati. Kini acara hampir usai dan ditutup sebuah do'a. Ternyata sang pejabat khusus mengundang Bu Nyai yang sangat dikagumi oleh masyarat kota itu untuk memimpin do'a. Ketika hampir saja Bu Nyai melangkahkahkan kaki ke tempat pembacaan do'a, tiba-tiba seorang ajudan memanggil dan menyodorkan secarik kertas. Apa to ini?? gumamnya dalam hati. Tatkala dibuka ternyata konsep do'a khusus buat sang pejabat, yang isinya tidak hanya do'a keselamatan, kebahagiaan tetapi yang lebih mengejutkan adalah do'a agar berhasil dalam pencalonan dirinya sebagai Anggota "XXX" mewakili Partai "Y" dan sebuah himbauan agar seluruh masyarakat memilihnya karena Bu Nyai sudah mendukung sepenuhnya. Astaghfirulloh..., dia jadi teringat nasehat salah satu kyai sepuh bahwa penguasa boleh datang ke rumahmu (ulama) tapi berhati-hatilah jika seorang ulama mendatangi seorang penguasa. Hati-hati yang dimaksud adalah dikhawatirkan adanya fitnah dan penyalah gunaan jabatan sehingga keikhlasan hati, zuhud, ihsan dan iman akan goyah. Nilai da'wah akan berganti rupiah karena bisa dibeli penguasa. INILAH SLILIT YANG SESUNGGUHNYA!!...



Allahu Akbar! aku harus ambil keputusan gumamnya., aku tidak mau menjadi slilit yang kelihatannya sepele namun mampu mengoyahkan bahkan merusak gigi. Dengan sangat hati-hati dia memberikan pengertian pada ajudan dan sang pejabat. untuk do'a pertama dan kedua tidak keberatan tapi untuk yang ketiga dan empat dengan sangat terpaksa tidak bisa. Muka masam langsung muncul menggantikan senyum lebar yang sedari tadi mengembang. Bu Nyai memberikan pengertian pada sang pejabat, dan secara mengejutkan sang pejabat langsung mengambil microfon dan mengumumkan pada para undangan bahwa beliau telah menemukan penda'wah sejati. Sekarang beliau yakin tentang Bu Nyai yang banyak jadi panutan banyak orang. Itulah kenapa beliau ingin "Taaruf" agar bisa mengenal lebih dekat sosok yang dikagumi...



[Continue reading...]

Sabtu, 19 Juni 2010

Slilit Sang Bu Nyai

Salam bloger, lam kenal dari newbi yang masi perlu banyak bimbingan dari mas2, mbak2, paklik, bulik dan semua blogger yang lebih senior (pakde dan bude blogger) juga restu mbah google..

Postingan pertama ta'aruf dengan seorang bu nyai kampung dan fatamorgana sebuah jalan da'wah.

Terlahir dari sebuah kampung kecil dan jauh dari kota gadis kecil ini dilahirkan. Namun tekadnya yang kuat untuk jadi pendakwah dia rela pergi sekolah madrasah ibtidaiyah ke kampung lain dengan berjalan kaki seorang diri...(bersambung)
[Continue reading...]