Halaman

Tampilkan postingan dengan label Special Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Special Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 September 2010

PESONA Sinar DHUHA

1. Demi waktu Dhuha (ketika matahari naik sepenggalah).

2. Dan demi malam apabila telah sunyi.

3. Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.

4. Dan sungguh, yang kemudian itu lebih bagimu daripada yang permulaan

5. dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.

6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu).

7. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk.

8. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.




9. Maka terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.

10. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik(nya).


11. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).




11 ayat dari surat Ad-Dhuha rasanya sering kita lantunkan manakala kita sholat dhuha pada rokaat ke dua. Dan rasanya setiap kali membaca surat ini, aku tidak merasa sendiri karena Allah Syah Robbul Jalil senantiasa menemani hamba-Nya dalam suka dan duka, juga tak pernah ingkar dari segala yang difirmankan-Nya.



Surat tersebut diturunkan manakala Rasulullah SAW sedang sedih, gundah gulana dan dihina habis-habisan oleh kaum musyrikin karena Allah agak lama tidak menurunkan firman-Nya. Mereka mengira Rasulullah telah ditinggalkan Tuhannya. Allah Maha Tahu kebingungan hambaNya dan ditegaskan bahwa Allah selalu ada pada ayat 3-8. Tetapi Allah juga mengingatkan bahwa tidak boleh semena-mena pada ayat 8-11. Allah selalu menyeimbangkan antara HAK dan KEWAJIBAN. Tetap rendah hati, Nama boleh di langit tapi hati tetap membumi...



Janji Allah bak Pesona sinar dhuha yang selalu datang tiap pagi dan tak pernah ingkar janji. Datang dengan senyuman yang menghangatkan yang mengingatkan aku kala perjalanan pagi antara Lamongan - Gresik. Menjelang jam 6 pagi kita bisa menikmati indahnya matahari terbit yang terlihat dari pelabuhan ujung pangkah (pantura). SUBHANALLOH....indah sekali karena kita bisa mengikuti detik tiap detik matahari terbit sampai membentuk lingkaran penuh. Sampai saat ini pemandangan ini terus ada karena hamparan tambak udang dan Bandeng masih terbuka. Semoga ini tetap bisa dinikmati dalam jangka lama tidak terganti oleh gedung-gedung dan gudang-gudang yang kini sudah mulai bertebaran di mana-mana.



[Continue reading...]

Sabtu, 28 Agustus 2010

2 in 1 ( Indahnya Kebersamaan )

Di tengah kehidupan religi, tentunya banyak sekali Musholla di sekitar kita, hampir tiap gang kampung ada mushollahnya bahkan di kampungku saja satu gang ada 2 musholla berseberangan pula letaknya, dan itu pemandangan yang sudah biasa. Tapi sangat sedikit bahkan jarang ada musholla yang dipakai 2 organisasi keagamaan yang berbeda. Kita tahu di Indonesia ada 2 organisasi keagamaan terbesar aku sebut saja kelompok "A" dan "B". Kebanyakan mereka punya mushalla bahkan masjid sendiri. Nah ini sangat berbeda dengan Musholla depan rumahku karena ini ”mungkin” satu-satunya musholla yang terdiri dari 2 organisasi yang berbeda namun bersama sama dalam syiar agama dengan penuh toleran, seperti ini nich..
  • Tetap sholat berjama’ah baik imam dari "A" maupun "B" karena mereka sudah memahami.
  • Jika sholat subuh dan kebetulan imamnya orang "B", maka ada jeda waktu untuk do’a qunut bagi kaum "A" meski sang imam tidak melakukan.
  • Setelah azdan ada pujian tapi hanya beberapa menit saja, karena di "B" tidak ada pujian
  • Khusus sholat tarawih diambil yang terbanyak yakni 20 rokaat + 3 rokaat witir. Bagi yang "B" biasanya setelah 8 rokaat mereka berhenti sampai do’a dan tetap mengikuti ceramah setelah tarawih secara bersama. Baru ikut witir jika ingin mengikuti karena witir dianggap juga penutup sholat malam maka ada juga yang dilakukan di rumah selepas sholat malam entah Tahajud ataupun yang lain.
  • Tadarus bersama, megengan, maleman juga bersama-sama di mushollah dengan i’tikad mempererat ukhuwah.
  • Saat Takbiran di malam lebaran pun bersama, meski yang dilafalkan jumlahnya sedikit berbeda.
  • Bila ada acara pengajian entah khotmil Qur’an, Mauludan dan perayaan hari besar keagamaan atau yang lain, maka semuanya menyumbang entah dana maupun tenaga (masak bersama)
  • dan bersama-sama mengumpulkan dana buat kemakmuran dan kebutuhan pembangunan Mushalla ( ini Ta'mir Musholla, bukan Ta'mir Masjid)
Kami menyadari bahwa khilafiyah tidak akan pernah ada habisnya, karena masing-masing punya dasar dalam penentuan pilihan meski satu tujuan. Betapa Indahnya kebersamaan jika dua jiwa yang berbeda bisa bersatu dalam nuansa cinta Robbani dengan penuh kesadaran dan toleran, inilah 2 in 1 yang aku maksud.

[Continue reading...]

Kamis, 19 Agustus 2010

PULAU BISU - KEBUN BISU - TOPO BISU

Sama-sama “bisu” tapi berada di 3 kota yang berbeda. Ta’aruf yuk…..


PULAU BISU

Pulau ini terletak di daerah Probolinggo, tepatnya di tengah-tengah Laut Tanjung Tembaga. Untuk mencapai pulau yang dihuni hanya beberapa desa ini harus melalui kapal kecil semacam fery atau perahu kecil. Transportasi kapal ini hanya ada pagi dan sore hari saja (2 x sehari). Setelah keliling Probolinggo ke wisata Pantai Bentar dan pemandian air panas Tiris, aku dan temanku yang asli Probolinggo mau sekalian berkunjung ke Pulau Bisu, namun karena jam 3 sore akhirnya batal mengingat kapal yang mau berangkat baru balik ke pelabuhan besok pagi. Weleh weleh… bisa-bisa terdampar di Pulau Bisu, seperti film petualangan Indiana Jones saja. Ngeri ah..!!


KEBUN BISU

Kebun Bisu adalah sebuah Taman Bermain anak-anak yang cukup asri dan rindang dilengkapi patung dan mainan berbagai jenis binatang. Letaknya di kawasan Sidoarjo tepatnya di depan Bandara Juanda lama. Saya dulu juga senang main kesini rame-rame sewaktu masih tinggal di dekat Juanda. Dinamakan kebun bisu karena binatangnya gak ada yang bisa ngomong alias bisu. La iyalah namanya juga patung…


TOPO BISU

Nah… kalau yang satu ini mungkin sobat sudah banyak yang tahu ya. Saya pernah mengikuti acara ritual Topo Bisu yang dilakukan oleh Keraton Jogjakarta saat acara Ngumbah Keris, setiap malam1 Syuro. Dimulai jam 12 Malam tepat, diawali prosesi pembacaan do’a berupa moco pat (do’a dalam bentuk syair bahasa jawa yang dilagukan) setelah itu ritual topo bisu mengitari benteng keraton sambil membawa Gunungan (sesaji berbentuk gunung) diusung keliling benteng keraton bersama seluruh kerabat keraton, abdi dalem dan juga warga sekitar bahkan ada yang dari luar kota. Selama keliling menyalakan obor, memukul alat-alat gamelan tanpa bicara sepatahpun alias “membisu”. Sepanjang perjalanan keliling, satu orang bertugas membawa bunga melati dan uang koin yang untuk ditebarkan sepanjang perjalanan. Uang koin diyakini oleh kebanyakan warga sebagai bentuk rizki/kesuksesan usaha dan bunga melati sebagi kedudukan atau derajat, sehingga banyak sekali warga yang berebut mendapatkan uang dan bunga tersebut.

Sangatlah mudah mendapatkan koin dan bunga karena semula posisiku di sebelah barisan kerabat keraton tepat di belakang pembawa koin dan buaga, tapi aku hanya ambil 1 koin dan 1 bunga saja sebagai bukti bahwa aku mengikuti prosesi itu. Eh ternyata banyak temanku yang kecewa merasa kesulitan mendapatkan koin dan bunga karena berada di barisan belakang. Oalah....Andai aku tahu pasti tadi aku ambilkan kawan...

Mendekati puncak kirab warga semakin berdesakan dan akhirnya aku pindah ke depan barisan biar lebih aman bersama para reporter dalam dan luar negeri yang meliput acara ini. Puncak kirab di alun-alun Keraton, gunungan dibagikan dan air di percikkan ke warga. Aku juga dapat air, tapi aku rasa lebih seperti dibasuh daripada dipercikkan, habis buanyak bangetts…!!


Risalah :

Inti dari ritual ”TOPO BISU” ini adalah berusaha menahan diri, meski membisu tetapi tetap berkarya dan berdoa (menabuh gamelan sambil berdoa) dan Bersedekah (menebar koin) juga Memberikan kebaikan (menabur bunga).

Diam itu emas karena diikuti keikhlasan hati. Karena kadangkala diam tidak bernilai emas jika mendiamkan kemungkaran atau karena kedengkian/kebencian.

Jika kita menabur kebaikan di jalan Tuhan, insya Allah akan menuai kebaikan pula dan Tuhan akan mengganti dengan melipatgandakan jumlahnya.

Ah, kalau diingat-ingat filsafah ini juga seperti saat bulan Puasa ini. Meski Puasa tetap semangat berkarya, ibadah dan sedekah.

[Continue reading...]

Senin, 16 Agustus 2010

Surat Cinta ke - 55

Semalam aku pulang Taraweh dari Masjid Besar agak larut sekitar jam 9 karena ada ceramah khusus, selain pencerahan seperti biasa sekaligus peringatan Kemerdekaan RI ke 65 Th. Dalam perjalanan menuju rumah, Pos Kamling di perempatan sudah penuh Bapak-Bapak yang hendak Tasyakuran peringatan Kemerdekaan RI ke 65 Th juga.
Sambil berjalan aku bergumam dalam hati, Hmmm... Merdeka. Apa iya merdeka? Iya sih kan sudah tidak di jajah. Tapi kok masih banyak rakyat yang frustasi, bunuh diri, belum merdeka dari ancaman para penjahat yang semakin sadis di mana-mana, belum merdeka dari bom "hijau" yang justru datang dari dapur kita???

Ah, lebih baik aku mengintip pesta kemerdekaan yang sebenarnya dimana mereka juga merayakannya hari ini bahkan satu bulan ini!. Dimanakah itu? Tak lain dan Tak bukan adalah dari "DUNIA LAIN" tentunya. Mereka tengah tafakur, bersyukur karena janji kemerdekaan 1 bulan ini benar-benar terpenuhi oleh sang pemilik janji. Para Penghuni kubur, yang ada di dunia lain kini sedang bersuka cita karena betul-betul merayakan kemerdekaannya. Allah betul-betul menjamin kemerdekaan. Tidak ada siksa kubur atau sejenisnya bagi kaum yang berdosa bahkan ada perjamuan khusus di 1 bulan Ramadhan yang penuh maghfiraoh ini.Itu kenapa dalam Al Qur'an, Allah menanyakan berkali-kali kepada manusia "Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" .

Kenyataan yang sangat ironis dengan Dunia yang aku singgahi.

Sesampai rumah aku ingin membuka surat ke - 55, surat cinta Allah pada hambaNya, itulah Surah "Arrahman" (Yang Maha Pengasih). Surah ke-55 dari Al Qur'an+Terjemahan yang aku baca semakin membuatku kagum akan cara Allah menunjukkan kebesaran, kelembutan dan pelajaran administrasi, Lingkungan Hidup, Hukum (Tata cara Peradilan)dengan penuh kasih pada hambaNya. Di surat inilah Allah memberi penjelasan dan pertanyaan yang dimulai dari Ayat ke 13 dan diulang sampai 31 kali. Setiap penjelasan, Allah menanyakan "Fabi ayyi aalaaaa irobbikuma tukadzdzibaan...???" ("Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?").

Dalam ayat 51 disebutkan "Dan segala sesuatu yang kecil maupun yang besar semuanya tertulis". Administrasi yang sempurna, juga bukti dari fakta yang tak bisa dimanipulasi oleh pengacara sekalipun. Pertanyaan yang dimulai dari ayat ke 13 sebanyak 31 kali. Woww... perpaduan angka berbalik yang indah sekali. Aku rasa ini bukan kebetulan tapi Allah punya jiwa seni yang cukup tinggi pula.

"Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Jika aku mendengar lantunan ayat ini, sedihku serasa sirna, kesombonganku terasa luruh..! semuanya berganti rasa syukur tak terkira. Bagaimana dengan anda Kawan...???

Sedikit I'tiraf dari Abu Nawas:

Duhai Allah aku tak layak di syurgaMu,
Namun aku juga tak kuat di Neraka-Mu

Dosa-dosaku tak terhitung bagai debu...
Ya Illahi ampunkanlah semua dosaku...

Allah memang Maha sempurna, semoga Allah Maha Pengasih menerima amal ibadah puasa kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Semoga kita tidak hanya berkawan di dunia tapi menjadi tetangga di syurga. Amin...
[Continue reading...]

Sabtu, 14 Agustus 2010

RisalaH CintA


Jika mata tak menyerupai matahari

Betapa mungkin kita mampu menangkap cahaya,

Jika kekuatan Illahi tak ada dalam diri kita

Betapa mungkin Tuhan mempesona kita...??

(By: El Jalaludin Rumi)




Itu adalah sedikit cuplikan karya Risalah Cinta dari seorang Penyair sufi El Jalaludin Rumi (mengingatkan nama Putra Juragan Ahmad Dhani - Dewa 19).

Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriyah atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Namun akhirnya tinggal dan menjadi penyair terbesar di Persia.


Aku beri nama Risalah Cinta karena syair-syair beliau lebih kepada Mahabbah, Pemujaan kepada Allah SWT.

El Jalaludin Rumi adalah seorang penyair sufi terbesar di Persia yang benar-benar mendalami makna kehadiran Allah dalam setiap detak jantungnya. Itu kenapa beliau sampai mampu menciptakan tarian yang sangat populer yaitu tarian “Wirling Darwis”, dimana penari berputar tanpa henti sambil berdzikir. Mungkin Hanya orang-orang yang memiliki konsentrasi & keindahan pencapaian mahabbah tertinggi kepada Allah (ma’rifat) yang mampu melakukan tarian ini karena harus mengikuti irama musik juga irama hati secara bersama.


Selain El Jalaludin Rumi, masih banyak lagi sastrawan yang memiliki karya seni /tulisan-tulisannya sangat bernilai dan menyentuh hati. Ada Rabi’ah Al Adhawiyah (Tokoh sufi wanita), Kahlil Gibran, Buya Hamka, Bang Taufik Isma’il, KH. Mustofa Bisri (Rembang), KH. D. Zawawi Imron (Madura), Emha Ainun Najib (Cak Nun), Kang Danarto, Bunda Neno Warisman dan juga Alm. Gus Dur.


Khusus Alm. Gus Dur tulisan-tulisan Beliau sangat unik diselingi joke-joke yang syarat makna filosofi layaknya Kisah Abu Nawas yang cerdik juga terkadang dianggap kontroversial karena keterbatasan kita dalam menjabarkan makna di dalamnya, mungkinkah karena beliau lama tinggal di Baghdad tempat Abu Nawas dengan Raja Harun Al Rasyid ya ....???Jadi ingat Kisah 1001 Malam neh...

[Continue reading...]