Arti Sakinah Mawaddah Wa Rahmah

Ketika saya menikah ataupun melihat teman yang melangsungkan pernikahan, banyak teman dan kerabat berkata:”Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah”. Apa sebenarnya makna sakinah mawaddah wa rahmah sesungguhnya? Apakah hanya sekadar mengucapkan? Tak jelas mengapa sakinah mawaddah wa rahmah bisa menjadi istilah yang populer dan selalu diucapkan berangkai. Ungkapan sakinah mawaddah wa rahmah berasal dari surat Ar-Rum ayat 2. Dalam salah satu ayat tersebut, Allah swt menggunakan kata li taskunu(supaya kamu merasa tentram). Jadi, makna asal sakinah adalah ketentraman. Dalam ayat yang sama, Allah swt menyebut kata mawaddah (kasih) dan kata rahmah (sayang).

Intisari dari ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa diantara tanda-tanda kebesaran-Nya yaitu menjadikan manusia yang beda jenis kelamin menjadi berpasang-pasangan. Hal itu akan melahirkan ketentraman (sakinah) karena telah dibekali dengan cinta kasih yang disebut dengan mawaddah wa rahmah. Istilah-istilah tersebut lantas menjadin baku dan kerap kali terdengar setiap kali ada even perkawinan, karena setiap pasangan mendambakan kebahagiaan yang dipenuhi cinta dan kasih sayang.

Ukuran apakah yang yang dipakai untuk menggambarkan kondisi rumah tangga? Banyak ukuran yang digunakan seperti: pangkat, status sosial, suami yang tampan dan smart, istri yang cantik dan keibuan, keturunan yang shaleh dan shalehah, sukses dalam karir, rumah mewah, dan seterusnya. Sebagian pasangan ada yang mengukur kebahagiaan dalam dua kombinasi, yakni punya materi plus ketentraman batin atau jiwa.

Ada ukuran kebahagiaan (sakinah) yang semata-mata hanya menekankan pada dimensi ketenangan batin. Kebahagiaan itu adalah kekayaan hati, bukan kekayaan harta. Aura kekayaan hati bersumbu pada sifat qanaah (sifat menerima pemberian Tuhan). Sebab disinilah makna hakiki dari kekayaan diri. Dalam sebuah ungkapan disebutkan, al-qanaatu kanzun la yafna (sifat qanaah merupakan kekayaan yang tak akan hilang).

Makna sakinah mawaddah wa rahmah adalah rasa ketentraman diri dalam batin yang tak diukur dengan takaran-takaran duniawi. Ketentraman batin bersifat abstrak, namun bisa menggerakkan secara konkrit bagi setiap pasangan menuju tahta rumah tangga yang abadi dan disirami rahmat Tuhan.

Nurul Hoeda Haem dalam bukunya Awas Illegal Wedding menyatakan bahwa fase dalam membangun rumah tangga terbagi dalam tahapan mahabbah (cinta secara fisik), mawaddah (cinta yang tumbuh karena kepribadian), rahmah (cinta kasih yang membutuhkan pengorbanan), lalu lahirlah apa yang disebut sakinah (ketenangan). Membentuk keluarga sakinah hanya akan menjadi mimpi kalau ketiga tahap keakraban tidak terwujud.

Belajar dari beberapa fakta konflik rumah tangga dan pernak-pernik perceraian yang justru banyak menimpa pasangan kelas elit belakangan ini, maka harta dan tahta bukanlah jaminan kebahagiaan. Rasulullah mengajarkan umatnya sebuah konsep rumah tangga dengan menumbuhkan nuansa surgawi. Kata nabi, Bayti jannati (rumahku surgaku). Hadits tersebut tidak menyebut, rumah harus megah dan besar, tapi lebih menekankan pada nuansa atmosfir surgawi di dalamnya.

 

Sumber: Majalah Anggun

Khitbah

Dengarkanlah wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini

Aku ingin, mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir

Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu

Dengarkanlah wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Janji suci satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini

Aku ingin, mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir

Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu

Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu

Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu

Akulah yang terbaik untukmu…

TUJUAN PERKAWINAN DALAM ISLAM

Perkawinan mempunyai tujuan yang sangat mulia, tak hanya sekedar untuk memuaskan nafsu saja, akan tetapi ada hal-hal mulia di balik itu. Ust Yazid, seorang ustadz kawakan akan memberikan gambaran tentang apa sebenarnya tujuahan pernikahan dalam islam.
[red]

1. Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia Yang Asasi
Di tulisan terdahulu [bagian kedua] kami sebutkan bahwa perkawinan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan aqad nikah [melalui jenjang perkawinan], bukan dengan cara yang amat kotor menjijikan seperti cara-cara orang sekarang ini dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.

2. Untuk Membentengi Ahlak Yang Luhur.
Sasaran utama dari disyari'atkannya perkawinan dalam Islam di antaranya ialah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang telah menurunkan dan meninabobokan martabat manusia yang luhur. Islam memandang perkawinan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efefktif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
'Artinya : Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji [kemaluan]. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa [shaum], karena shaum itu dapat membentengi dirinya'. [Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi].

3. Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami.
Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya Thalaq [perceraian], jika suami istri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah, sebagaimana firman Allah dalan ayat berikut :

'Artinya : Thalaq [yang dapat dirujuki] dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang bail. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang dhalim'. [Al-Baqarah : 229].

Yakni keduanya sudah tidak sanggup melaksanakan syari'at Allah. Dan dibenarkan rujuk [kembali nikah lagi] bila keduany sanggup menegakkan batas-batas Allah. 

Sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah lanjutan ayat di atas :
'Artinya : Kemudian jika si suami menthalaqnya [sesudah thalaq yang kedua], maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dikawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya [bekas suami yang pertama dan istri] untuk kawin kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, diternagkannya kepada kaum yang [mau] mengetahui '. [Al-Baqarah : 230]

Jadi tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami istri melaksanakan syari'at Sialm dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari'at Islam adalah wajib. Oleh karena itu setiap muslim dan muslimah yang ingin membina rumah tangga yang Islami, maka ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon pasangan yang ideal, yaitu: Harus Kafa'ah dan Shalihah.

a. Kafa'ah Menurut Konsep Islam
Pengaruh materialisme telah banyak menimpa orang tua. Tidak sedikit zaman sekarang ini orang tua yang memiliki pemikiran, bahwa di dalam mencari calon jodoh putra-putrinya, selalu mempertimbangkan keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan saja. Sementara pertimbangan agama kurang mendapat perhatian. Masalah Kufu' [sederajat, sepadan] hanya diukur lewat materi saja.

Menurut Islam, Kafa'ah atau kesamaan, kesepadanan atau sederajat dalam perkawinan, dipandang sangat penting karena dengan adanya kesamaan antara kedua suami istri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami inysa Allah akan terwujud. Tetapi kafa'ah menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta ahlaq seseorang, status sosial , keturunan dan lain-lainnya. Allah memandang sama derajat seseorang baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau kaya. Tidak ada perbedaan dari keduanya melainkan derajat taqwanya [Al-Hujurat : 13].

'Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal'. [Al-Hujurat : 13].

Dan mereka tetap sekufu' dan tidak ada halangan bagi mereka untuk menikah satu sama lainnya. Wajib bagi para orang tua, pemuda dan pemudi yang masih berfaham materialis dan mempertahanakan adat istiadat wajib mereka meninggalkannya dan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi yang Shahih. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :

'Artinya : Wanita dikawini karena empat hal : Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya [ke-Islamannya], sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka'. [Hadits Shahi Riwayat Bukhari 6:123, Muslim 4:175]

b. Memilih Yang Shalihah
Orang yang mau nikah harus memilih wanita yang shalihan dan wanita harus memilih laki-laki yang shalih. Menurut Al-Qur'an wanita yang shalihah ialah :

'Artinya : Wanita yang shalihah ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri bila suami tidak ada, sebagaimana Allah telah memelihara [mereka]'. [An-Nisaa : 34]

Menurut Al-Qur'an dan Al-Hadits yang Shahih di antara ciri-ciri wanita yang 
shalihah ialah :

'Ta'at kepada Allah, Ta'at kepada Rasul, Memakai jilbab yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan [tabarruj] seperti wanita jahiliyah [Al-Ahzab : 32], Tidak berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahram, Ta'at kepada kedua Orang Tua dalam kebaikan, Ta'at kepada suami dan baik kepada tetangganya dan lain sebagainya'.

Bila kriteria ini dipenuhi Insya Allah rumah tangga yang Islami akan terwujud. Sebagai tambahan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih wanita yang peranak [banyak keturunannya] dan penyayang agar dapat melahirkan generasi penerus umat.

4. Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah.
Menurut konsep Islam, hidup sepenunya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadatan dan amal shalih di samping ibadat dan amal-amal shalih yang lain, sampai-sampai menyetubuhi istri-pun termasuk ibadah [sedekah].

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
'Artinya : Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah !. Mendengar sabda Rasulullah para shahabat keheranan dan bertanya : 'Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?' Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab : 'Bagaimana menurut kalian jika mereka [para suami] bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? 'Jawab para shahabat :'Ya, benar'. Beliau bersabda lagi : 'Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya [di tempat yang halal], mereka akan memperoleh pahala !'. [Hadits Shahih Riwayat Muslim 3:82, Ahmad 5:1167-168 dan Nasa'i dengan sanad yang Shahih].

5. Untuk Mencari Keturunan Yang Shalih.
Tujuan perkawinan di antaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam, Allah berfirman :

'Artinya : Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?'. [An-Nahl : 72]

Dan yang terpenting lagi dalam perkawinan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah.

Tentunya keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan Islam yang benar. Kita sebutkan demikian karena banyak 'Lembaga Pendidikan Islam', tetapi isi dan caranya tidak Islami. Sehingga banyak kita lihat anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq Islami, diakibatkan karena pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami istri bertanggung jawab mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar.

Tentang tujuan perkawinan dalam Islam, Islam juga memandang bahwa pembentukan keluarga itu sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.

URGENSI NIAT DALAM PERNIKAHAN

Kehati-hatian dalam melangkah dalam segala tindakan adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Saat memilih pasangan, mengkhitbah, ketika melangsungkan pernikahan, hingga setelah pernikahan itu sendiri, mengkoreksi niat harus selalu menjadi prioritas utama kita.

DI sebuah sudut mesjid, di keheningan sepertiga malam terakhir, terdengar seorang lelaki bermunajat kepada tuhannya. Dalam untaian doanya terdengar lirih sebuah kalimat indah, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan hidup dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa".

Kalimat di atas tentu popular di telinga kita. Bahkan, mungkin hampir setiap Muslim selalu menyertakan untaian kalimat tersebut dalam setiap doanya. Bahkan, doa ini pun sering dipanjatkan Rasulullah saw. Ia adalah nukilan Alquran surat Al Furqan ayat 74.

Bila kita merenung, sudah tak terhitung berapa kali doa tersebut diucapkan para kekasih Allah. Tak terhitung pula berapa kali Allah mengabulkan doa tersebut bagi yang memohonnya. Lewat doa tersebut, Allah memberikan jalan bagi manusia agar bisa mendapatkan pasangan hidup yang shalih dan anak-anak yang bisa menjadi hiasan mata. Mendapatkan keduanya merupakan harapan semua orang, tidak terkecuali seorang lajang yang sedang mencari pendamping ataupun orang yang telah berkeluarga.

Masalahnya sekarang, bagaimana caranya agar kita mampu merealisasikan harapan tersebut dalam kehidupan? Tidak mudah memang. Perlu perjuangan dan kesabaran sepenuh hati untuk meraihnya karena ada tahapan-tahapan yang harus kita lewati. Tentu, niat adalah tangga awal untuk meraihnya.

Mengapa niat? Niat adalah landasan awal sebuah perbuatan. Ia merupakan aktifitas batin yang unik sehingga selalu menuntut perhatian dan perlakuan istimewa. Secara lebih luas, niat adalah tergeraknya hati menuju sebuah keadaan yang dianggap sebagai tujuan, baik berupa perolehan manfaat atau pencegahan mudharat. Al-Imam Yahya bin Syarifuddin An-Nawawi dalam kitab Syarah Hadits Arba'in mengartikan niat sebagai kehendak seseorang kepada perbuatan dalam rangka mencari ridha Allah dan melaksanakan hukum-Nya.

Dari definisi di atas, kita bisa melihat betapa pentingnya niat. Keridhaan dan kemurkaan Allah akan sangat dipengaruhi oleh sejauh mana kita bisa menempatkan niat tersebut dalam tempat yang benar. Begitu pula dengan sebuah pernikahan, ia bisa menjadi amal shalih apabila niatnya lurus untuk mendapatkan ridha Allah, dan bisa menjadi dosa apabila niatnya karena nafsu atau harta. Karenanya, Rasulullah saw mengingatkan kita tentang hal ini, "Dan setiap orang hanya akan memperoleh berdasarkan niatnya," (HR. Bukhari
dan Muslim).

Dalam hadits lain, Rasulullah saw juga menyampaikan, "Manusia dibangkitkan kembali kelak sesuai dengan niat-niatnya. " (HR Muslim).

Dalam kaitannya dengan pernikahan, ada dua model dasar dari niat ini, yaitu niat seseorang yang akan menikah dan niat seseorang yang sudah menikah (berkeluarga). Bagi golongan pertama, niat yang mendorongnya untuk menikah biasanya relatif "sederhana", sehingga mudah untuk diluruskan, selain lebih terpelihara dari hal-hal yang bisa merusak kesucian niat.

Untuk golongan kedua, niat mereka setelah pernikahan lebih bersifat fluktuatif. Dalam arti, adanya proses naik-turun dari keinginan-keinginan yang timbul berkaitan dengan keberlangsungan pernikahannya. Ada yang ingin terus memelihara niat awal dengan tetap setia pada pasangan. Ada pula yang bertambah niatnya dengan ingin menikah lagi. Kecenderungan kedua ini bisa dilakukan dengan cara yang hasanah (baik) maupun dengan cara menzhalimi pasangan sebelumnya.

Kasus menzhalimi pasangan bagi yang sudah menikah timbul karena tidak adanya pengendalian diri yang baik, dan kurangnya pemahaman akan urgensi niat. Walaupun pada awal pernikahan niatnya sudah lurus, tapi karena lemahnya pemahaman dan buruknya pengendalian diri, niat tersebut kemudian melenceng jauh. Kegagalan dalam pernikahan pun bisa disebabkan pula karena tidak lurusnya niat ketika hendak menikah.

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus selalu kita perhatikan berkaitan dengan masalah niat ini. 
Pertama, kita harus memahami posisi dan kondisi niat dalam tiga tahapan, yaitu ketika niat itu muncul (di awal waktu), pada waktu proses berjalannya niat (pertengahan), dan ketika niat sudah tertunaikan (di akhir).

Demikian pentingnya unsur niat ini, sehingga setan akan selalu masuk melalui pintu niat. Ia akan berusaha merusak, mengacaukan, dan menjadikan niat kita jatuh ke posisi paling buruk, dalam bentuk riya. Rasulullah saw menegaskan kenyataan ini, "Jika dia pergi berusaha untuk membela anak yatim yang masih kecil-kecil, maka dia berada di jalan Allah. Jika dia pergi berusaha untuk membela kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, maka dia berada di jalan Allah. Jika dia pergi berusaha untuk membela dirinya agar tetap hidup, maka dia berada di jalan Allah. Jika dia pergi berusaha karena riya dan kesombongan, maka dia berada di jalan setan." (HR. Thabrani).

Kehati-hatian dalam melangkah dalam segala tindakan adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Saat memilih pasangan, mengkhitbah, ketika melangsungkan pernikahan, hingga setelah pernikahan itu sendiri, mengkoreksi niat harus selalu menjadi prioritas utama kita.

kedua, setelah memahami posisi dan kondisi niat adalah menghadirkan doa dalam setiap tahapan niat; mulai dari awal, pertengahan, hingga akhir. Arti penting menghadirkan doa adalah untuk mengantipasi hadirnya sifat sombong dan penyakit hati lainnya yang bisa mengotori kesucian niat kita.

Doa adalah ungkapan kepasrahan hati dan jalan terbaik meraih pertolongan Allah. "Maka, mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka sebagai indah (sesuatu yang indah) apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. Al-An'am [6] : 43). 

Semoga Allah senantiasa membimbing niat-niat kita, amiin.
Wallahua'lam 

MENERIMA APA ADANYA

Sepasang pria dan wanita menikah, dan acara pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan. Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai. 

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, "Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan" katanya sambil menyodorkan majalah tersebut. "Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia.....". Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikan mereka bersama. 

Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing. Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya. "Aku akan mulai duluan ya", kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman... Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir..... "Maaf, apakah aku harus berhenti ?" tanyanya. "Oh tidak, lanjutkan..." jawab suaminya. Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia, "Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu". Dengan suara perlahan suaminya berkata "Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang.... " Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya... Ia menunduk dan menangis..... Dalam hidup ini, banyak sekali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan. Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita ? Saya percaya kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk.

TINJAUAN PSIKOLOGIS PERNIKAHAN

Ikhwah wa akhwati... ini ana dapet artikel menarik dari seorang teman yang udah berkeluarga...beliau meresume sebuah hasil seminar pernikahan ditinjau secara psikologis... semoga bermanfaat..

Bahasan yang pertama adalah mengenai tinjauan psikologis menjelang pernikahan :

Pertama : Perlukah kriteria ideal ? Masalah ini adalah hal yang wajar, karena setiap orang pasti punya. Kriteria ini biasaanya merupakan perpaduan antara kriteria antum,orang tua, dan jamaah [ menurut antum semalam ].Namun yang perlu antum ingat adalah jangan pernah berfikir bahwa antum akan mendapatkan sosok yang sempurna sesuai kriteria antum.Yang terpenting adalah jangan mematok kriteria yang terlalu tinggi, nanti antum gak dapet-dapet loh ! Dan dari pengalaman ane, kadang kita lupa bahwa sesungguhnya apa yang kita anggap baik itu belum tentu yang terbaik yang akan Alloh berikan buat kita. 

Kedua : Perhatikan latar belakang agama dan pemahaman si doi

Ketiga : Pilih orang yang memiliki komitmen terhadap perkembangan pribadi, seorang dengan sosok yang selalu konsisten dan punya komitmen untuk selalu mempelajari segala sesuatu untuk perkembangan kepribadiannya.

Keempat : Pilih orang yang memiliki keterbukaan emosional, antum harus memilih orang yang bisa dan dapat mengenali dan memahami dirinya sendiri, dan dapat mengungkapkan perasaannya.

Kelima : Pilih orang yang punya integritas tinggi. yaitu orang yang jujur terhadap dirinya sendiri dan orang lain [kepada antum ], berani mengungkapkan hal - hal yang menjadi keterbatasannya, dan bukan orang yang apatis.

Keenam : Pilih orang yang memiliki kematangan dan tanggung jawab. Memiliki kematangan berarti ia dapat mengurus dirinya sendiri, dan bertanggung jawab terhadap apa yang dikatakannya [ konsisten ].

Keetujuh : Pilih orang yang memiliki harga diri. Antum harus ingat bahwa seseorang itu hanya bisa mencintai sedalam cintanya pada dirinya sendiri.Karenanya lihatlah sedalam apa ia bisa mencintai dan menghargai dirinya.So kalo ia tidak bisa mencintai dirinya bagaimana mungkin ia bisa mencintai antum sebagai suaminya ?

Kedelapan : Pilih orang yang memiliki sikap positif pada kehidupan. Orang yang bersikap positif biasanya memiliki sikap hidup yang selalu berusaha merubah suatu kendala menjadi sebuah peluang.

Gimana ...? ngga' tambah bingung khan ? Nah yang berikut ini adalah Hal - hal yang perlu diperhatikan agar terhindar dari kesalahan memilih pasangan :

pertama : Jangan terlalu cepaat memutuskan untuk menikah, ini bukan berarti ane menyuruh antum untuk berlambat-lambat loh ? maksudnya adalah sebaiknya antum menyelidiki dengan seksama, bertanya pada orang yang berkompeten, dan sholat memohon petunjuk Alloh tentunya.Yang dianjurkan adalah menyegerakan untuk menikah khan ? bukan cepat-cepat menikah ?

Kedua : Jangan menikah diusia yang belum matang secara pribadi, karena hal ini akan menjadi masalah bagi antum dan pasangan kelak. Matang secara pribaddi adalah kemampuaan untuk mengenali dan mengembangkan identitas diri dan menentukan sasaran hidup.

Ketiga : Ini poin yang terpenting, jangan menikah hanya untuk menyenangkan orang lain [ orang tua, atau jamaah atau MR misalnya ]. KARENA ANTUMLAH ORANG YANG AKAN BERUNTUNG ATAU MENDERITA DALAM PERNIKAHAN BUKAN ORANG LAIN.

Keempat : Janganlah menikah dengan harapan-harapan ynag tidak realistis [ diluar rumah tangga sejati ], antum gak pengen nikah karena pengen jadi jutawan khan ? dengan jadi menantu konglongmerat misalnya.[he...he...becanda loh ? ]

Kelima : Janganlah menikah dengan orang yang memiliki masalah kepribadian dan tingkah laku.

Akhi,... juga ada beberapa pertiumbangan medis yang perlu antum pertimbangkan, yaitu :

Pertama : pilih calon istri yang tidak memiliki riwayat penyakit yang dapat diturunkan secara genetis misalnya asma, penyakit degeneratif, penyakkit kelainan darah [ hemofilli, thalasemmia, hepatitis B ] atau yang menderita TBC [ kecuali antum ingin menambah nilai ibadah dengan bersabar dan mengobati istri antum atau yang lain ]. Juga penyakit gila.Antum penderita asma atau ada anggota keluarga penderita asma ? maka pilihlah calon istri yang bukan penderita asma atau tidak memiliki anggota keluarga yang menderita asma

Kedua : perhatikan juga apakah calon antum punya riwayat penyakit jantung bawaan atau ada anggota keluarga yang menderita ?

Akhi,... mungkin itu yang dapat ane tuliskan untuk antum, semoga bermanfaat buat antum. Jadi antum akan mendapatkan yang terbaik ,... Amin. Afwan kalo ada sale -sale kate ye ?

Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Step By Step To Get Jannah








1. Kupilih potret keluarga Rosulullah
 Swear guys! Al Qur’an memang lengkap dan gak perlu ditambah – tambah lagi. Cari apa saja ada dech! Asal kita tidak lupa baca tafsirnya dan hadits – hadist yang berkaitan dengannya. (Makanya ngaji yuuu…uk)
 

Nah dalam Al Qur’an itu sudah digambarkan potret – potret keluarga yang
akan selalu hadir sampai bumi ini Qiyamat (Silahkan buka QS Al Lahab dan QS At Tahrim sebagai rujukannya). Apa saja potretnnya :
 

a. Potret Suami dan Istri yang kompak ingkarnya. Suami kafir dan istri juga kafir. ( bukan karena pepatah jawa Surgo Melu neroko Katut). Diantara banyak nominasi yang ada, potret ini di menangkan oleh keluarga Abu Lahab dan Istrinya. Padahal hidup semasa dengan Nabi Muhammad, bahkan pamannya lagi. Berapa banyak mukjizat yang ia saksikan tapi tetap tidak membuatnya beriman. Bahkan lebih giat mengumpulkan kayu bakar buat di neraka.

 

b. Potret suami yang sholeh dan istri yang salah (ingkar). Bahkan bukan hanya istrinya saja, tetapi anak – anaknya juga kafir dan ingkar terhadap seruan fitrah islam. Potret ini akan kita temui pada sosok keluarga Nabi Nuh dan Nabi Luth. Bagaimana istri dan putranya Kan’an telah dijak masuk ke dalam kapal tapi menolak dengan alasan akan selamat di puncak gunung yang akhirnya tenggelam juga bersama kekafiran mereka. Pun istri Nabi Luth yang mengumpankan tamu – tamunya (malaikat) kepada masyarakat Homo di lingkungannya.

 

c. Potret istri yang sholehah dan suami yang salah (ingkar). Ingatlah akan kisah Nabi Musa as. Akan kita temui potret Fir’aun yang ingkar beristrikan Aisiyah yang dalam do’anya kepada Allah meminta dibuatkan rumah di Syurga. Dialah Aisiyah ibunda angkat Nabi Musa as, yang menarik keranjang bayi dari sungai Nil dan memohon kepada Fir’aun agar bayi laki – laki ini tidak dibunuh. Potret keluarga seperti ini banyak kita temui dewasa ini disekitar kita. Istri yang taat, beribadahnya bagus bahkan berjilbab lebar tapi bersuamikan lelaki yang muslim tapi malas sholat, bahkan kadang berjudi atau minum minuman keras (Premankah …).

 

d. Potret keluarga single parents. Keluarga yang hanya diisi oleh istri saja. Potret ini diwakili oleh Maryam ibunda Nabi Isa. Hal ini diakibatkan oleh ketentuan Allah, entah karena mukjizat seperti Maryam atau karena ditinggal mati suaminya. Dan sekali lagi bukan karena si wanita ini doyan berzina dengan satu atau banyak lelaki, kemudian tidak ada lelaki yang mau bertanggungjawab sebagai ayah si bayi kemudian ia membesarkan anaknya sendiri seperti para artis – artis mesum itu. Namun fenomena ini sekarang menyebar ke masyarakat umum akibat wabah pergaulan bebas muda – mudi dan remaja.

 

e. Potret keluarga ideal, keluarga sakinah, keluarga dakwah. Potret ini ada pada diri suri tauladan kita yang terbaik yaitu Rosulullah dengan Khadijah. Sang suami sholeh, sang istri juga sholeh. Saling mengisi dalam kebahagiaan dan penderitaan kehidupan dakwah Islam. 

Nah, jika ingin keluarga kita sakinah maka ambilah potret keluarga yang
kelima yaitu keluarga Rosulullah sebagai contoh untuk diikuti. Tentunya
harus kaffah dalam mencontohnya, sehingga ketika kemaslahatan dakwah dan ummat mengharuskan suaminya berpoligami ya jangan terus istri pertama minta cerai … (Ingat bukan karena nafsu ya mas…

 

2. Kulangkahkan kaki ini dengan basmallah

 Setelah diketahui model keluarga sakinah yang diinginkan, maka saatnya kita untuk melangkah. Ya kalo diem saja kapan jalannya …
 

Maka mulailah melangkah. Prosedurnya adalah langkah pertama kita harus dengan Bismillah… karena nikah itu kan ibadah, dan amalan ibadah hanya akan diterima jika niatan kita untuk menggapai ridlo Allah, bukan yang lain (Ingat hadits tentang niat..).

 

Konsekuensinya adalah kita harus memilih pasangan kita yang bagus agamanya sebagai prioritas. Ya kalo ternyata sudah sholeh trus cantik/ganteng, trus kaya, trus pejabat terhormat de el el, maka anggap itu hanya ekses saja (Dalam hati syukurnya setengah mati . . .)

 

Sehingga ketika pasangan kita sudah mulai keriput tidak indah lagi ya gak papa wong masih sholeh/ah. Trus andai pasangan kita sekarang jadi miskin yo gak papa yang penting masih sholeh/ah. Atau ternyata ketika pasangan kita sudah jadi orang biasa ya juga ngak perlu risau wong dia masih sholeh/ah, gitu …

 

 3. Kupinang engkau dengan hamdallah
 

Setelah niatan kita perbaiki, maka selanjutnya ketuk pintu si doi. Temua Camer (calon mertua), ungkapkan isi hati untuk mempersunting sang putri … deu … 

 

Tafsiran kupinang engkau dengan hamdalah adalah kita harus siap dengan kekurangan dan kelebihan pasangan kita masing – masing. Ya kalo pas ta’aruf belum tahu kalo tidurnya ngorok (sekalian ngiler) trus nanti kalo dah seranjang seperti tidur dengan kereta ya harus ikhlas.
Atau dulu pas belum nikah sering bikin tulisan atawa acara romantis (yang ternyata EO nya temenya sendiri) trus habis akad ternyata kaku dan jutek maka juga harus ikhlas. Intinya apapun kekurangan pasangan kita kita harus sabar.

 

Ingat, kisah seorang istri yang cantik dan masih mdua bersuamikan lelaki yang jelek, ketus, kasar dan tua. Si istri selalu berkata dalam hatinya bahwa pernikahannya dengan lelaki itu adalah tiketnya masuk syurga. Hal ini atas kesabaran yang di lakukan. Bayangin aja gimana gak sabar, punya suami jelek, kasar, ketus… tua lagi. Nah begitupun sang suami. Pernikahannya itu dia jadikan pula sebagai tiket masuk syurga. Hal ini karena kesyukuran yang selalu dia panjatkan. Bagaimana gak syukur, punya istri muda, cantik, sholeh, nrimo lagi. Nah ternyata KESABARAN dan KESYUKURAN dalam kisah tadilah implikasi dari hamdallah itu …

 

Kemudian konsekuensi dari hamdalah itu juga adalah kita tidak boleh mengharapkan balasan atas apa yang kita kerjakan. Jangan sekali kali sang suami mengatakan saya sudah capek banting tulang, peras keringat cari nafkah untuk istrinya trus pulang kerja kok gak dibikinin kopi. Atau sang istri pun mengatakan sudah capek nyuci, masak dan ngurusin anak kayak pembantu masak minta baju baru buat lebaran saja gak dikasih sich. So, janganlah apa yang telah kita lakukan kita ungkit – ungkit pas kita meminta sesuatu. Cobalah memusyawarahkan segala keperluan rumah tangga dengan baik tanpa mengungkit – ungkit pemberian. Bisa kan !!

4. Kusahkan ikatan ini dengan Akad Nikah

 Ingat, sahnya akad nikah jika semua rukun nikahnya terpenuhi. Apa saja?

Mempelai pria, mempelai wanita, wali, mahar, saksi dan ijab qobul. Ah…
anda memang pintar! 

 Tentunya kalo salah satu rukun itu gak ada pasti gak sah. Nah, yang sering terjadi adalah permasalahan pada wali. Karena kedua mempelai sudah kadung cinta katanya, tetapi ayah si wanita gak setuju maka jadilah istilah kawin lari (pake wali hakim). Hati – hati, jika ayahnya muslim, waras, dan masih hidup jangan coba – coba untuk memakai wali hakim saat beliau gak setuju dengan pernikahan kita. Implikasinya adalah nikah kita tidak sah yang artinya kita berzina seumur hidup, iiih ngeriii…
 

Kemudian jangan kesampingkan pencatatan di KUA. Nikah sirri memang sah secara agama tapi banyak kejadian keluarga akan kesulitan untuk mengurus hal administratif di kelurahan atau sekolah. Nah yang paling banyak dirugikan adalah pihak mempelai wanita dan anak – anak tentunya. Jangan sampai pas mendaftar sekolah, trus dimintai akte kelahiran kita jadi kelabakan. Karena untuk membuat akte kelahiran harus menyertakan fotokopi surat nikah. Tanpa surat nikah maka pada akte akan tertulis anak lahir di luar nikah, tanpa nama ayah disana (Siapa yang mau kalo anak kita dibilang masyarakat sebagai anak haram hayo…walau sebenarnya semua anak itu terlahir suci)

5. Kulalui hari – hari pernikahan dengan laa haula wala quwwata ila billah

 

Sahabat.
Bukalah mushofmu dan bacalah 2 ayat terakhir surat Al Baqoroh. Bahwasanya kita tidak akan dibebani dengan sesuatu yang kita tidak mampu. Jadi sepahit apapun derita yang saat ini kita lalui, maka Allah telah tetapkan bahwa kita pasti mampu untuk melaluinya. Maka ketika musibah datang kepada kita, maka kesabaranlah yang akan menjadi perisai kita untuk melaluinya. Jika ingin berkeluh kesah, maka bukan kepada teman, sahabat, orang tua, tetangga atau manusia manapun. Tapi kepada Allahlah engkau utarakan semuanya, curhatlah engkau pada-Nya.Tahajudlah sahabat …

 

Kemudian jika kebahagian, kemakmuran atau kegembiraan yang datang kepada kita. Maka ingatlah bahwa tanpa ijin dari Allah kita tidak akan dapat
mendapatkannya. Sehingga tidak akan terlintas sedikitpun dalam dada kita ketakaburan, kesombongan dan ujub atas kesuksesan yang kita raih. Karena pada dasarnya kita hanya berusaha, dan Allah yang mengijabah do’a kita. Kita tak ada apa – apanya tanpa kehendak-Nya.

 

Sehingga disinilah nada kepasrahan kita dengungkan. Tiang tawakal kita tancapkan. Keikhlasan atas segala keputusan-Nya adalah pondasi atas apapun yang akan menimpa biduk rumah tangga kita kelak. Maka selalu ingatlah, tiada daya upaya tanpa ridlo dari Yang Maha Kuasa . . .

6. Kubimbing keluargaku dengan laa ilaa ha illallah

 

Terakhir sahabat. Ada tugas yang harus dipikul tiap keluarga. Suami adalah pemimpin bagi keluarganya, maka dia akan diminta pertangungjawaban atas
apa yang dipimpinnya. Istri adalah pemimpin bagi rumah tangganya, maka tiap jiwa akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Maka ajarkanlah keluargamu mengenal Allah. Bimbinglah mereka kepada fitrah manusia yaitu fitrah Islam.

 

Jika anak – anakmu lahir kelak. Hal pertama yang harus kau ajarkan adalah mengenal Allah. Yaa.. Ma’rifatullah. Bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah. Dialah Dzat yang pantas untuk di sembah. Kepada-Nyalah bergantung segala sesuatu. Sehingga anak – anak kita kelak tidak akan takut dengan manusia – penguasa yang dzolim misalnya. Tidak akan terseret pada arus duniawi, kebebasan yang tanpa batas yang merusak dan fitnah – fitnah dunia lainnya.

 

Selanjutnya, jadikanlah keluargamu itu majelis ilmu. Utamakan ilmu agama terlebih dahulu baru ilmu dunia. Agar kita tidak menjadi orang pinter yang
keblinger. Agar kita cerdas membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

InsyaAllah keluarga ini sakinah dan kelak akan masuk Jannah

 

Nah, jika keenam langkah itu kita lakukan. Maka dengan keijinan-Nya keluarga kita akan sakinah. Dan jika keluarga kita sakinah maka insyaAllah
syurga adalah pelabuhan terakhir.
 

Bagi yang belum menikah, semoga langkah – langkah ini bermanfaat sebagai
mainframe (panduan) rumah tanggamu kelak. Bagi yang sudah menikah, tidak perlu engkau mengulanginya dari awal (Masak suruh ta’aruf lagi, trus akad lagi).
Cukup engkau instropeksi diri beberapa langkah yang telah lalu. Jika telah benar maka kuatkanlah. Jika belum maka perbaikilah. 

Wallahu'alam


http://ivhenx.blog.friendster.com/category/pernikahan/