Arti Sakinah Mawaddah Wa Rahmah
Ketika saya menikah ataupun melihat teman yang melangsungkan pernikahan, banyak teman dan kerabat berkata:”Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah”. Apa sebenarnya makna sakinah mawaddah wa rahmah sesungguhnya? Apakah hanya sekadar mengucapkan? Tak jelas mengapa sakinah mawaddah wa rahmah bisa menjadi istilah yang populer dan selalu diucapkan berangkai. Ungkapan sakinah mawaddah wa rahmah berasal dari surat Ar-Rum ayat 2. Dalam salah satu ayat tersebut, Allah swt menggunakan kata li taskunu(supaya kamu merasa tentram). Jadi, makna asal sakinah adalah ketentraman. Dalam ayat yang sama, Allah swt menyebut kata mawaddah (kasih) dan kata rahmah (sayang). Intisari dari ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa diantara tanda-tanda kebesaran-Nya yaitu menjadikan manusia yang beda jenis kelamin menjadi berpasang-pasangan. Hal itu akan melahirkan ketentraman (sakinah) karena telah dibekali dengan cinta kasih yang disebut dengan mawaddah wa rahmah. Istilah-istilah tersebut lantas menjadin baku dan kerap kali terdengar setiap kali ada even perkawinan, karena setiap pasangan mendambakan kebahagiaan yang dipenuhi cinta dan kasih sayang. Ukuran apakah yang yang dipakai untuk menggambarkan kondisi rumah tangga? Banyak ukuran yang digunakan seperti: pangkat, status sosial, suami yang tampan dan smart, istri yang cantik dan keibuan, keturunan yang shaleh dan shalehah, sukses dalam karir, rumah mewah, dan seterusnya. Sebagian pasangan ada yang mengukur kebahagiaan dalam dua kombinasi, yakni punya materi plus ketentraman batin atau jiwa. Ada ukuran kebahagiaan (sakinah) yang semata-mata hanya menekankan pada dimensi ketenangan batin. Kebahagiaan itu adalah kekayaan hati, bukan kekayaan harta. Aura kekayaan hati bersumbu pada sifat qanaah (sifat menerima pemberian Tuhan). Sebab disinilah makna hakiki dari kekayaan diri. Dalam sebuah ungkapan disebutkan, al-qanaatu kanzun la yafna (sifat qanaah merupakan kekayaan yang tak akan hilang). Makna sakinah mawaddah wa rahmah adalah rasa ketentraman diri dalam batin yang tak diukur dengan takaran-takaran duniawi. Ketentraman batin bersifat abstrak, namun bisa menggerakkan secara konkrit bagi setiap pasangan menuju tahta rumah tangga yang abadi dan disirami rahmat Tuhan. Nurul Hoeda Haem dalam bukunya Awas Illegal Wedding menyatakan bahwa fase dalam membangun rumah tangga terbagi dalam tahapan mahabbah (cinta secara fisik), mawaddah (cinta yang tumbuh karena kepribadian), rahmah (cinta kasih yang membutuhkan pengorbanan), lalu lahirlah apa yang disebut sakinah (ketenangan). Membentuk keluarga sakinah hanya akan menjadi mimpi kalau ketiga tahap keakraban tidak terwujud. Belajar dari beberapa fakta konflik rumah tangga dan pernak-pernik perceraian yang justru banyak menimpa pasangan kelas elit belakangan ini, maka harta dan tahta bukanlah jaminan kebahagiaan. Rasulullah mengajarkan umatnya sebuah konsep rumah tangga dengan menumbuhkan nuansa surgawi. Kata nabi, Bayti jannati (rumahku surgaku). Hadits tersebut tidak menyebut, rumah harus megah dan besar, tapi lebih menekankan pada nuansa atmosfir surgawi di dalamnya. Sumber: Majalah Anggun
02:16 | | 0 Comments
Khitbah
Dengarkanlah wanita pujaanku Aku ingin, mempersuntingmu Jangan kau tolak dan buatku hancur Dengarkanlah wanita impianku Aku ingin, mempersuntingmu Jangan kau tolak dan buatku hancur Jangan kau tolak dan buatku hancur Jangan kau tolak dan buatku hancur Akulah yang terbaik untukmu…
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Tuk yang pertama dan terakhir
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Malam ini akan kusampaikan
Janji suci satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini
Tuk yang pertama dan terakhir
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
03:47 | Label: Khitbah | 0 Comments
TUJUAN PERKAWINAN DALAM ISLAM
16:59 | | 0 Comments
URGENSI NIAT DALAM PERNIKAHAN
16:56 | | 0 Comments
MENERIMA APA ADANYA
16:46 | | 0 Comments
TINJAUAN PSIKOLOGIS PERNIKAHAN
16:03 | | 0 Comments
Step By Step To Get Jannah
Nah dalam Al Qur’an itu sudah digambarkan potret – potret keluarga yang a. Potret Suami dan Istri yang kompak ingkarnya. Suami kafir dan istri juga kafir. ( bukan karena pepatah jawa Surgo Melu neroko Katut). Diantara banyak nominasi yang ada, potret ini di menangkan oleh keluarga Abu Lahab dan Istrinya. Padahal hidup semasa dengan Nabi Muhammad, bahkan pamannya lagi. Berapa banyak mukjizat yang ia saksikan tapi tetap tidak membuatnya beriman. Bahkan lebih giat mengumpulkan kayu bakar buat di neraka. b. Potret suami yang sholeh dan istri yang salah (ingkar). Bahkan bukan hanya istrinya saja, tetapi anak – anaknya juga kafir dan ingkar terhadap seruan fitrah islam. Potret ini akan kita temui pada sosok keluarga Nabi Nuh dan Nabi Luth. Bagaimana istri dan putranya Kan’an telah dijak masuk ke dalam kapal tapi menolak dengan alasan akan selamat di puncak gunung yang akhirnya tenggelam juga bersama kekafiran mereka. Pun istri Nabi Luth yang mengumpankan tamu – tamunya (malaikat) kepada masyarakat Homo di lingkungannya. c. Potret istri yang sholehah dan suami yang salah (ingkar). Ingatlah akan kisah Nabi Musa as. Akan kita temui potret Fir’aun yang ingkar beristrikan Aisiyah yang dalam do’anya kepada Allah meminta dibuatkan rumah di Syurga. Dialah Aisiyah ibunda angkat Nabi Musa as, yang menarik keranjang bayi dari sungai Nil dan memohon kepada Fir’aun agar bayi laki – laki ini tidak dibunuh. Potret keluarga seperti ini banyak kita temui dewasa ini disekitar kita. Istri yang taat, beribadahnya bagus bahkan berjilbab lebar tapi bersuamikan lelaki yang muslim tapi malas sholat, bahkan kadang berjudi atau minum minuman keras (Premankah …). d. Potret keluarga single parents. Keluarga yang hanya diisi oleh istri saja. Potret ini diwakili oleh Maryam ibunda Nabi Isa. Hal ini diakibatkan oleh ketentuan Allah, entah karena mukjizat seperti Maryam atau karena ditinggal mati suaminya. Dan sekali lagi bukan karena si wanita ini doyan berzina dengan satu atau banyak lelaki, kemudian tidak ada lelaki yang mau bertanggungjawab sebagai ayah si bayi kemudian ia membesarkan anaknya sendiri seperti para artis – artis mesum itu. Namun fenomena ini sekarang menyebar ke masyarakat umum akibat wabah pergaulan bebas muda – mudi dan remaja. e. Potret keluarga ideal, keluarga sakinah, keluarga dakwah. Potret ini ada pada diri suri tauladan kita yang terbaik yaitu Rosulullah dengan Khadijah. Sang suami sholeh, sang istri juga sholeh. Saling mengisi dalam kebahagiaan dan penderitaan kehidupan dakwah Islam. Nah, jika ingin keluarga kita sakinah maka ambilah potret keluarga yang 2. Kulangkahkan kaki ini dengan basmallah Maka mulailah melangkah. Prosedurnya adalah langkah pertama kita harus dengan Bismillah… karena nikah itu kan ibadah, dan amalan ibadah hanya akan diterima jika niatan kita untuk menggapai ridlo Allah, bukan yang lain (Ingat hadits tentang niat..). Konsekuensinya adalah kita harus memilih pasangan kita yang bagus agamanya sebagai prioritas. Ya kalo ternyata sudah sholeh trus cantik/ganteng, trus kaya, trus pejabat terhormat de el el, maka anggap itu hanya ekses saja (Dalam hati syukurnya setengah mati . . .) Sehingga ketika pasangan kita sudah mulai keriput tidak indah lagi ya gak papa wong masih sholeh/ah. Trus andai pasangan kita sekarang jadi miskin yo gak papa yang penting masih sholeh/ah. Atau ternyata ketika pasangan kita sudah jadi orang biasa ya juga ngak perlu risau wong dia masih sholeh/ah, gitu … Setelah niatan kita perbaiki, maka selanjutnya ketuk pintu si doi. Temua Camer (calon mertua), ungkapkan isi hati untuk mempersunting sang putri … deu … Tafsiran kupinang engkau dengan hamdalah adalah kita harus siap dengan kekurangan dan kelebihan pasangan kita masing – masing. Ya kalo pas ta’aruf belum tahu kalo tidurnya ngorok (sekalian ngiler) trus nanti kalo dah seranjang seperti tidur dengan kereta ya harus ikhlas. Ingat, kisah seorang istri yang cantik dan masih mdua bersuamikan lelaki yang jelek, ketus, kasar dan tua. Si istri selalu berkata dalam hatinya bahwa pernikahannya dengan lelaki itu adalah tiketnya masuk syurga. Hal ini atas kesabaran yang di lakukan. Bayangin aja gimana gak sabar, punya suami jelek, kasar, ketus… tua lagi. Nah begitupun sang suami. Pernikahannya itu dia jadikan pula sebagai tiket masuk syurga. Hal ini karena kesyukuran yang selalu dia panjatkan. Bagaimana gak syukur, punya istri muda, cantik, sholeh, nrimo lagi. Nah ternyata KESABARAN dan KESYUKURAN dalam kisah tadilah implikasi dari hamdallah itu … Kemudian konsekuensi dari hamdalah itu juga adalah kita tidak boleh mengharapkan balasan atas apa yang kita kerjakan. Jangan sekali kali sang suami mengatakan saya sudah capek banting tulang, peras keringat cari nafkah untuk istrinya trus pulang kerja kok gak dibikinin kopi. Atau sang istri pun mengatakan sudah capek nyuci, masak dan ngurusin anak kayak pembantu masak minta baju baru buat lebaran saja gak dikasih sich. So, janganlah apa yang telah kita lakukan kita ungkit – ungkit pas kita meminta sesuatu. Cobalah memusyawarahkan segala keperluan rumah tangga dengan baik tanpa mengungkit – ungkit pemberian. Bisa kan !! 4. Kusahkan ikatan ini dengan Akad Nikah Mempelai pria, mempelai wanita, wali, mahar, saksi dan ijab qobul. Ah… Kemudian jangan kesampingkan pencatatan di KUA. Nikah sirri memang sah secara agama tapi banyak kejadian keluarga akan kesulitan untuk mengurus hal administratif di kelurahan atau sekolah. Nah yang paling banyak dirugikan adalah pihak mempelai wanita dan anak – anak tentunya. Jangan sampai pas mendaftar sekolah, trus dimintai akte kelahiran kita jadi kelabakan. Karena untuk membuat akte kelahiran harus menyertakan fotokopi surat nikah. Tanpa surat nikah maka pada akte akan tertulis anak lahir di luar nikah, tanpa nama ayah disana (Siapa yang mau kalo anak kita dibilang masyarakat sebagai anak haram hayo…walau sebenarnya semua anak itu terlahir suci) 5. Kulalui hari – hari pernikahan dengan laa haula wala quwwata ila billah Sahabat. Kemudian jika kebahagian, kemakmuran atau kegembiraan yang datang kepada kita. Maka ingatlah bahwa tanpa ijin dari Allah kita tidak akan dapat Sehingga disinilah nada kepasrahan kita dengungkan. Tiang tawakal kita tancapkan. Keikhlasan atas segala keputusan-Nya adalah pondasi atas apapun yang akan menimpa biduk rumah tangga kita kelak. Maka selalu ingatlah, tiada daya upaya tanpa ridlo dari Yang Maha Kuasa . . . 6. Kubimbing keluargaku dengan laa ilaa ha illallah Terakhir sahabat. Ada tugas yang harus dipikul tiap keluarga. Suami adalah pemimpin bagi keluarganya, maka dia akan diminta pertangungjawaban atas Jika anak – anakmu lahir kelak. Hal pertama yang harus kau ajarkan adalah mengenal Allah. Yaa.. Ma’rifatullah. Bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah. Dialah Dzat yang pantas untuk di sembah. Kepada-Nyalah bergantung segala sesuatu. Sehingga anak – anak kita kelak tidak akan takut dengan manusia – penguasa yang dzolim misalnya. Tidak akan terseret pada arus duniawi, kebebasan yang tanpa batas yang merusak dan fitnah – fitnah dunia lainnya. Selanjutnya, jadikanlah keluargamu itu majelis ilmu. Utamakan ilmu agama terlebih dahulu baru ilmu dunia. Agar kita tidak menjadi orang pinter yang InsyaAllah keluarga ini sakinah dan kelak akan masuk Jannah Nah, jika keenam langkah itu kita lakukan. Maka dengan keijinan-Nya keluarga kita akan sakinah. Dan jika keluarga kita sakinah maka insyaAllah Bagi yang belum menikah, semoga langkah – langkah ini bermanfaat sebagai Wallahu'alam http://ivhenx.blog.friendster.com/category/pernikahan/
akan selalu hadir sampai bumi ini Qiyamat (Silahkan buka QS Al Lahab dan QS At Tahrim sebagai rujukannya). Apa saja potretnnya :
kelima yaitu keluarga Rosulullah sebagai contoh untuk diikuti. Tentunya
harus kaffah dalam mencontohnya, sehingga ketika kemaslahatan dakwah dan ummat mengharuskan suaminya berpoligami ya jangan terus istri pertama minta cerai … (Ingat bukan karena nafsu ya mas…) 
![]()


Atau dulu pas belum nikah sering bikin tulisan atawa acara romantis (yang ternyata EO nya temenya sendiri) trus habis akad ternyata kaku dan jutek maka juga harus ikhlas. Intinya apapun kekurangan pasangan kita kita harus sabar.
anda memang pintar! ![]()
Bukalah mushofmu dan bacalah 2 ayat terakhir surat Al Baqoroh. Bahwasanya kita tidak akan dibebani dengan sesuatu yang kita tidak mampu. Jadi sepahit apapun derita yang saat ini kita lalui, maka Allah telah tetapkan bahwa kita pasti mampu untuk melaluinya. Maka ketika musibah datang kepada kita, maka kesabaranlah yang akan menjadi perisai kita untuk melaluinya. Jika ingin berkeluh kesah, maka bukan kepada teman, sahabat, orang tua, tetangga atau manusia manapun. Tapi kepada Allahlah engkau utarakan semuanya, curhatlah engkau pada-Nya.Tahajudlah sahabat …
mendapatkannya. Sehingga tidak akan terlintas sedikitpun dalam dada kita ketakaburan, kesombongan dan ujub atas kesuksesan yang kita raih. Karena pada dasarnya kita hanya berusaha, dan Allah yang mengijabah do’a kita. Kita tak ada apa – apanya tanpa kehendak-Nya.
apa yang dipimpinnya. Istri adalah pemimpin bagi rumah tangganya, maka tiap jiwa akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Maka ajarkanlah keluargamu mengenal Allah. Bimbinglah mereka kepada fitrah manusia yaitu fitrah Islam.
keblinger. Agar kita cerdas membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.
syurga adalah pelabuhan terakhir.
mainframe (panduan) rumah tanggamu kelak. Bagi yang sudah menikah, tidak perlu engkau mengulanginya dari awal (Masak suruh ta’aruf lagi, trus akad lagi).
Cukup engkau instropeksi diri beberapa langkah yang telah lalu. Jika telah benar maka kuatkanlah. Jika belum maka perbaikilah.
05:29 | | 0 Comments